MORALITAS KADER DEMOKRAT

Oleh Abdullah Rasyid

Deputy BRAINS Demokrat

 

“Alhamdulillah, di Partai Demokrat orang-orangnya baik-baik. Tidak menikam dalam pelukan.”

Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan seperti gurauan di antara para sahabat. Namun, di tengah politik yang penuh persaingan, ia mengandung pesan moral yang dalam. Politik bukan hanya soal siapa memperoleh jabatan, melainkan juga tentang bagaimana kekuasaan diperjuangkan, dijalankan, dan dipertanggungjawabkan.

Tidak menikam dalam pelukan berarti tidak mengkhianati kepercayaan. Tidak tersenyum di depan sambil menjatuhkan dari belakang. Tidak memanfaatkan kedekatan untuk membangun intrik. Tidak pula menjadikan partai sebagai kendaraan pribadi yang ditinggalkan ketika kepentingan tak lagi terpenuhi.

Di situlah moralitas kader Demokrat memperoleh maknanya.

Politik dan Ujian Kesetiaan

Partai politik adalah tempat bertemunya cita-cita, kepentingan, ambisi, dan persahabatan. Karena itu, perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar. Kader boleh mengkritik pimpinan, tidak menyetujui keputusan partai, bahkan berjuang mengubah arah kebijakan melalui mekanisme organisasi.

Namun, perbedaan tidak boleh berubah menjadi pengkhianatan.

Kesetiaan dalam politik bukan kepatuhan buta kepada seorang tokoh. Kesetiaan adalah keberanian menjaga rumah bersama, termasuk ketika kita sedang kecewa kepada orang-orang di dalamnya. Kritik disampaikan secara terbuka dan bertanggung jawab, bukan melalui kasak-kusuk. Ketidaksetujuan diperjuangkan melalui forum partai, bukan dengan menghimpun kekuatan dari luar untuk merobohkan rumah sendiri.

Kader yang bermoral tidak hanya hadir ketika partai berkuasa. Ia tetap berdiri ketika partai berada di luar pemerintahan, kalah dalam pemilu, menghadapi tekanan, atau sedang menjalani masa sulit.

Loyalitas paling mudah diucapkan ketika jabatan tersedia. Nilainya justru terlihat ketika tidak ada kekuasaan yang dapat dibagikan.

 

Belajar dari Laku SBY

Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) memberikan pelajaran bahwa politik dapat dijalankan dengan kesantunan tanpa kehilangan ketegasan. Selama memimpin pemerintahan maupun Partai Demokrat, SBY menunjukkan pentingnya menjaga institusi, menghormati hukum, dan mengendalikan diri ketika menghadapi serangan politik.

SBY tentu bukan manusia tanpa kekurangan. Setiap pemimpin dapat dikritik dan setiap kebijakan dapat diperdebatkan. Namun, salah satu warisan pentingnya ialah keyakinan bahwa kekuasaan tidak boleh membenarkan segala cara.

Dalam berbagai situasi politik, SBY memilih menyampaikan sikap melalui argumentasi, data, dan jalur konstitusional. Ketika diserang, ia tidak serta-merta membalas dengan penyalahgunaan kekuasaan. Ketika berbeda pandangan, ia berusaha menjaga bahasa dan martabat lawan politik.

Dari laku tersebut, kader Demokrat dapat belajar bahwa kesantunan bukan kelemahan. Kesabaran bukan ketakutan. Menjaga etika tidak berarti kehilangan keberanian.

Justru orang yang memiliki kekuatan tetapi mampu menahan diri menunjukkan kematangan moral yang sesungguhnya.

 

AHY dan Kesetiaan kepada Proses

Agus Harimurti Yudhoyono memasuki politik dengan jalan yang tidak mudah. Ia meninggalkan karier militer, menghadapi kekalahan dalam kontestasi pertamanya, memimpin partai ketika berada di luar pemerintahan, serta melewati konflik internal yang menguji keutuhan organisasi.

Pengalaman itu membentuk satu pelajaran penting: kepemimpinan tidak hanya dibangun melalui kemenangan, tetapi juga melalui kemampuan menerima kekalahan, bangkit, dan tetap berjalan dalam koridor demokrasi.

AHY memperlihatkan bahwa politik membutuhkan daya tahan. Ketika menghadapi tekanan terhadap kepemimpinan partai, perjuangan dilakukan melalui hukum, konsolidasi organisasi, dan komunikasi kepada publik. Bukan dengan kekerasan, mobilisasi kebencian, atau tindakan di luar konstitusi.

Kini, ketika Partai Demokrat kembali mengambil bagian dalam pemerintahan, ujian moralnya berubah. Jika dahulu tantangannya adalah bertahan dalam tekanan, sekarang tantangannya ialah menjaga diri di tengah kekuasaan.

Kekuasaan selalu membawa godaan: fasilitas, jabatan, pengaruh, dan kedekatan dengan pusat pengambilan keputusan. Karena itu, berada dalam pemerintahan tidak boleh membuat kader kehilangan kepekaan terhadap penderitaan rakyat. Loyal kepada pemerintahan tidak berarti menutup mata terhadap kekurangan. Mendukung Presiden tidak berarti berhenti menyampaikan kebenaran.

 

Baik Saja Tidak Cukup

Pernyataan bahwa kader Demokrat adalah orang-orang baik harus ditempatkan sebagai doa sekaligus tuntutan. Sebab, dalam politik, niat baik saja tidak cukup.

Orang baik tanpa keberanian dapat memilih diam ketika melihat penyimpangan. Orang baik tanpa kompetensi dapat membuat kebijakan yang merugikan rakyat. Orang baik tanpa integritas dapat berubah ketika berhadapan dengan uang dan kekuasaan.

Karena itu, moralitas kader Demokrat harus berdiri di atas empat watak: setia, jujur, kompeten, dan berani.

Setia kepada cita-cita partai dan kepentingan rakyat, bukan sekadar kepada jabatan. Jujur dalam perkataan, tindakan, serta penggunaan kewenangan. Kompeten agar kehadirannya memberi manfaat nyata. Berani mengatakan benar ketika benar dan salah ketika salah, termasuk kepada kawan sendiri.

Tidak menikam dalam pelukan juga bukan berarti saling melindungi kesalahan. Persahabatan tidak boleh berubah menjadi persekongkolan. Solidaritas tidak boleh digunakan untuk menutupi korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, atau tindakan yang merusak nama partai.

Justru karena merasa satu keluarga, kader harus saling mengingatkan. Menjaga sahabat bukan dengan membiarkannya tersesat, melainkan dengan mencegahnya melakukan kesalahan.

 

Politik sebagai Jalan Pengabdian

Demokrat lahir dengan semangat nasionalis-religius. Nilai tersebut tidak cukup ditulis dalam dokumen organisasi atau diteriakkan dalam pidato. Ia harus terlihat dalam perilaku sehari-hari para kader.

Nasionalisme berarti mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok. Religiusitas berarti menghadirkan kejujuran, rasa malu, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa setiap kekuasaan akan dipertanggungjawabkan.

Kader Demokrat harus dikenal bukan karena paling keras berbicara, melainkan karena paling dapat dipercaya. Bukan karena paling dekat dengan kekuasaan, melainkan karena tetap dekat dengan rakyat. Bukan karena pandai membangun citra, melainkan karena konsisten bekerja dan menjaga amanah.

Dari SBY, kita belajar tentang kesantunan, keteguhan, dan pengendalian diri. Dari AHY, kita belajar tentang keberanian mengambil pilihan, menerima kekalahan, menghadapi tekanan, dan setia kepada proses demokrasi.

Teladan itu harus diterjemahkan menjadi perilaku seluruh kader, dari pusat hingga daerah.

Pada titik itulah kalimat “orang-orangnya baik-baik dan tidak menikam dalam pelukan” tidak berhenti sebagai pujian. Ia menjadi janji moral: bahwa Partai Demokrat adalah rumah bagi mereka yang berbeda tanpa saling mengkhianati, bersaing tanpa saling menghancurkan, dan berkuasa tanpa meninggalkan rakyat.

Sebab, kemenangan terbesar sebuah partai bukan hanya memperoleh banyak kursi. Kemenangan sejatinya adalah ketika kekuasaan berganti, jabatan berakhir, dan zaman berubah, tetapi kehormatan para kadernya tetap terjaga.