Andai R.A. Kartini menyaksikan bumi hari ini,
mungkin air matanya jatuh tanpa kata.
Bukan hanya karena ketidakadilan masih ada,
tetapi karena bumi — ibu dari segala kehidupan —
terluka parah oleh tangan manusia sendiri.
Sampah menggunung di daratan dan lautan.
Plastik membelit makhluk hidup.
Sungai-sungai hitam pekat oleh limbah.
Di mana letak kemerdekaan sejati
jika bumi kita masih dipenjara oleh keserakahan?
Kartini pernah bermimpi tentang cahaya.
Cahaya itu hari ini adalah kesadaran kita:
kesadaran untuk mengurangi sampah,
menjaga alam,
memulai perubahan kecil dari diri sendiri.
Tangis Kartini tidak untuk diratapi.
Tangis itu adalah panggilan:
bangun, sadar, bertindak.
Karena bumi ini, seperti kemerdekaan,
harus diperjuangkan —
bukan untuk kita saja,
tapi untuk generasi yang akan datang.
Mari menjadi bagian dari cahaya itu.
Mari hentikan tangis R.A. kartini,
Ayo, Selamatkan bumi sebelum terlambat.
Avignam Jagat Samagram
Desa Moncongloe, 22 April 2025
Sah Munir, SE
Komisi 2 DPRD Kabupaten Maros
Ketua Bintang Muda Indonesia Sulsel









Leave a Reply
View Comments