Oleh : Nur Amalia Dini Priatmi, S.Ag ( DPN Bintang Muda Indonesia )
Hari Guru Nasional yang kita peringati setiap 25 November selalu menjadi pengingat bahwa guru adalah fondasi utama pendidikan bangsa. Mereka bukan hanya penyampai ilmu, tetapi pembentuk karakter, penjaga moral, sekaligus jembatan masa depan generasi muda. Namun di tengah berbagai seremoni perayaan, ada realitas getir yang kini tak bisa kita tutup mata: semakin banyak guru yang merasa tidak dihargai, baik oleh murid maupun orang tua murid.
Fenomena ini bukan sekadar keluhan individual, tetapi telah menjadi persoalan sosial yang semakin menonjol. Kasus guru dicaci murid, direkam diam-diam, dibentak ketika menegur kelas, bahkan dipolisikan ketika menegakkan disiplin — semua ini membuat peringatan Hari Guru terasa ironi yang pahit. Di satu sisi guru dipuji sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, tapi di sisi lain, martabat mereka di ruang kelas semakin rapuh.
—
Riset Membuktikan: Krisis Penghargaan Terhadap Guru Itu Nyata
Data dan penelitian terbaru menunjukkan bahwa krisis ini bukan persepsi semata.
Studi Rahmadhani & Khairat (2024) memetakan tantangan etis yang dihadapi sekolah saat ini, salah satunya menurunnya rasa hormat murid terhadap guru. Banyak siswa menunjukkan perilaku mengganggu, menantang otoritas, dan tidak memahami batas interaksi dengan pendidik. Ini didukung penelitian lain yang menyoroti perubahan karakter sopan santun siswa akibat teknologi, pola asuh, dan budaya modern—mengikis nilai penghormatan tradisional kepada guru.
Bahkan calon guru (pre-service teachers) dalam riset 2025 melaporkan bahwa sejak praktik mengajar pertama, mereka sudah merasakan tidak dihargai oleh murid. Ini mengkhawatirkan: jika awal karier saja sudah membuat mereka merasa rendah diri dan frustrasi, bagaimana nasib kualitas tenaga pendidik kita di masa depan?
Temuan ini menunjukkan bahwa masalah penghargaan terhadap guru bukan hanya konflik insidental, tetapi masalah struktural yang mengancam profesionalisme dan motivasi pendidik dari generasi ke generasi.
—
Benturan dengan Orang Tua: Paradoks Peran dan Tanggung Jawab
Selain murid, konflik dengan orang tua murid juga semakin banyak terjadi. Guru yang menegur dianggap “berlebihan”, guru yang mendisiplinkan dianggap “kekerasan”, guru yang menasihati dianggap “tidak profesional”. Banyak yang berujung pelaporan, tekanan psikologis, bahkan kriminalisasi.
Paradoksnya: guru dituntut melahirkan generasi berkarakter, tetapi ruang mereka untuk menanamkan nilai justru semakin sempit.
Riset dan laporan lapangan menunjukkan bahwa sebagian orang tua kini lebih menempatkan guru sebagai “penyedia layanan” ketimbang pendidik yang memiliki otoritas moral. Di titik inilah, hubungan guru–orang tua mengalami ketegangan yang membuat guru semakin merasa tidak dihormati.
—
Dampak Langsung: Kualitas Pendidikan Terancam
Penurunan penghormatan terhadap guru bukan soal perasaan semata — ia berdampak langsung pada kualitas pendidikan nasional.
Guru yang merasa tidak dihargai:
1. Kehilangan motivasi mengajar,
2. Menjadi defensif dan takut serius menegur,
3. enggan berinovasi di kelas,
4. Mengalami stres dan kelelahan emosional,
5. Serta bekerja dalam lingkungan psikologis yang tidak aman.
Jika kondisi ini terus berlangsung, maka peringatan Hari Guru—dengan segala slogan “Guru Hebat, Indonesia Kuat”—akan menjadi sekadar simbol tanpa makna.
—
Hari Guru Sebagai Momentum Aksi, Bukan Seremonial
Hari Guru seharusnya tidak berhenti pada upacara dan bunga. Ia harus menjadi momen untuk:
1. Mengembalikan martabat guru sebagai figur moral
Sekolah, keluarga, dan masyarakat harus kembali pada kesadaran bahwa guru bukan pesaing orang tua, bukan pelayan publik, tetapi pendidik yang memikul mandat sosial.
2. Menguatkan pendidikan karakter murid
Riset menunjukkan perubahan sikap murid adalah nyata. Ini hanya bisa diperbaiki jika sekolah dan keluarga bersinergi dalam mengajarkan sopan santun, empati, dan rasa hormat.
3. Melindungi guru dari kriminalisasi yang berlebihan
Perlindungan hukum harus ditegakkan, bukan hanya tercetak dalam aturan. Guru butuh ruang aman untuk mendidik tanpa rasa takut.
4. Menyejahterakan guru secara layak
Krisis penghargaan semakin terasa ketika guru bekerja dengan beban berat tetapi tidak diimbangi penghargaan materiil dan profesional. Kesejahteraan adalah penghargaan nyata.
Hari Guru tahun ini harus menjadi titik balik bagi bangsa ini dalam memandang guru. Bukan hanya merayakan, tetapi muhasabah: apakah kita benar-benar menghargai para pendidik atau hanya memuji mereka di atas panggung sebelum kembali meremehkannya di hari-hari biasa.
Riset sudah menunjukkan bahwa penghargaan terhadap guru memang sedang menurun. Sekarang tugas kita adalah memastikan bahwa apresiasi tidak berhenti pada kata-kata manis setiap 25 November, tetapi diwujudkan dalam sikap, kebijakan, dan budaya yang mengembalikan martabat guru sebagai pilar utama bangsa.









Leave a Reply
View Comments